
NASIB PEREMPUAN DARI MASA
KE MASA
Kalau kita amati
dewasa ini, hampir tak ada lagi pekerjaan pria yang tidak dapat dilakukan oleh
perempuan, walaupun tidak semua perempuan dapat melakukannya. Sangat kontras
dengan nuansa tahun delapan puluhan, dimana kaum perempuan hanya sebatas rumah
dan pasar - sebuah lingkaran sempit - karena kaum perempuan dianggap mustahil
dapat mengerjakan apa yang dilakukan laki-laki dengan alasan lemah fisik dan
mental sesuai kodratnya. Namun saat ini, hal itu bukan lagi sesuatu yang
mustahil karena kaum perempuan mempunyai kemampuan untuk melakukannya di abad modern ini.
Hal ini disebabkan karena kemajuan IPTEK dan
perkembangan budaya dalam masyarakat. Saat ini, kaum perempuan tidak lagi
terkungkung oleh lingkaran yang sempit itu. Namun sebaliknya mampu mendobrak
lingkaran yang kokoh. Meski tidak ada keinginan bagi kaum perempuan untuk
meninggalkan kodratnya, karena yang ada hanyalah keinginan untuk mencari dan
memperoleh suatu hal yang baru yang membuat mereka dapat menghasilkan karya
nyata sebagaimana yang dapat dilakukan oleh kaum laki-laki. Sehingga saat ini
kaum perempuan dapat dikatakan setara dengan kaum laki-laki dan dapat menjadi
mitra sejajar bagi kaum laki-laki.
Nasib Perempuan Masa Pra-Islam
Sejarah mencatat bahwa jauh sebelum datangnya Islam,
dunia telah mengenal adanya dua peradaban besar (Yunani dan Romawi) dan dua
agama besar ( Yahudi dan Nasrani). Bagaimana nasib kaum perempuan saat itu?
Ternyata sesungguhnya kedudukan perempuan saat itu
(sebelum datangnya Islam) sangatlah rendah dan hina. Mereka dianggap sebagai
manusia yang tidak memiliki hak, jiwa kemerdekaan dan kemuliaan. Mereka
menganggap perempuan adalah sumber dari segala malapetaka dan bencana dunia.
Dalam peradaban Yunani, perempuan sangat dilecehkan dan
dihinakan. Mereka memandang perempuan sama rendahnya dengan barang dagangan yang
bisa diperjualbelikan di pasar. Perempuan boleh dirampas haknya sehingga sama
sekali tidak diakui hak-hak sipilnya, sebagai contoh dalam pandangan mereka
perempuan tidak perlu mendapat warisan dan tidak mempunyai hak untuk
menggunakan hartanya sendiri.
Sementara dalam peradaban Romawi, perempuan berada dalam
kekuasaan ayahnya. Dan kalau sudah menikah maka kekuasaannyapun jatuh ke tangan
suaminya - sebuah kekuasaan kepemilikan bukan
kekuasaan pengayoman - dan kondisi ini berlangsung sampai abad keenam masehi. (Ali
Yafi, 1995 : 264)
Ajaran agama Yahudi menganggap perempuan seperti
barang warisan yang dapat diwariskan
kepada keluarganya jika suaminya telah meninggal. Mereka menempatkan martabat perempuan
sebagai pelayan (budak), sehingga ayahnya berhak untuk menjualnya. Dan mereka juga beranggapan bahwa
perempuan tidak bisa mewarisi apapun kecuali jika ayahnya tidak punya anak
laki-laki.
Ajaran agama Nasrani memiliki persamaan dengan ajaran agama
Yahudi dalam menempatkan kaum perempuan di lingkungan masyarakat. Bahkan lebih
kejam lagi, dimana mereka memandang perempuan sebagai pangkal dari segala
kejahatan, kesalahan dan dosa. Mereka mengajarkan bahwa perempuan hanyalah
pemuas nafsu laki-laki. Namun pada saat perempuan haidh, mereka menganggap
perempuan itu sebagai najis yang harus dijauhi. (Ummu Syafa, 2005 : 4)
Begitupun dengan
bangsa-bangsa lain seperti, India, Cina bahkan bangsa Arab pada masa Jahiliyah,
semuanya menempatkan posisi kaum perempuan dalam posisi yang teramat rendah dan
hina. Sebagaimana tersebut dalam sejarah bahwa pada zaman jahiyah orang Arab
merasa malu apabila istrinya melahirkan seorang anak perempuan karena itu
dianggap sebagai aib terbesar bagi keluarga. Oleh karena itu, bayi perempuan
yang baru lahir langsung dikubur hidup-hidup. Ini pernah pula dilakukan oleh sahabat
Umar Bin Khatab di masa Jahiliyah. Saat itu para suami tidak lagi memperdulikan jerit tangis sang bayi dan
ibunya. Hal ini digambarkan Al Quran dalam Surat At Takwir ayat 8-9 yang
artinya : “Apabila bayi perempuan dikubur hidup-hidup bertanya, karena dosa
apakah ia di bunuh ?”
Perlakuan buruk
lain orang Arab jahiliyah terhadap kaum
perempuan adalah dijadikannya budak-budak (pembantu-pembantu) perempuan mereka untuk
melacur dan mereka mendapat keuntungan dari pelacuran tersebut.
Demikianlah nasib kaum perempuan masa lalu dalam sejarah
bangsa-bangsa di dunia di awal abad ketujuh sebelum datangnya Islam. Eksistensi
mereka tidak lebih dari makhluk tanpa harga diri yang kehilangan hak dan
kepemilikannya. Posisinya teramat rendah dan hina.
Nasib Perempuan Pasca
Islam
Bila kita kembali membuka sejarah khususnya di Indonesia,
sesungguhnya kondisi kesetaraan kaum perempuan dengan kaum laki-laki terjadi
jauh sebelum R.A. Kartini di Jateng dan Raden Dewi Sartika di Jabar
mengumandangkan emansipasi perempuan yang menuntut adanya persamaan hak antara
kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam segala bidang terutama di bidang
pendidikan. Karena empat abad yang lalu, dengan datangnya Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhamad Saw. berkat pejuangan beliau, kaum perempuan tidak lagi
direndahkan dan dihinakan .
Islam telah mampu
mengangkat derajat kaum perempuan menjadi sejajar dengan kaum laki-laki. Islam
memberikan derajat yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam hal pahala
dan derajat mereka di sisi Allah SWT sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an dalam surat An-Nahl ayat 97.
Islam telah mengangkat mereka dari lembah kehinaan dan
sumber keburukan, menyelamatkan mereka dari kekejaman perlakuan keji manusia
biadab di jaman jahiliyah. Bahkan Islam telah memberikan penghargaan dan
penghormatan yang setinggi-setingginya kepada kaum perempuan. Sebuah kedudukan
yang teramat mulia dan luhur. Hal ini tercantum dalam sebuah hadist Rasulullah
Saw yang artinya :
“Bahwa pada suatu ketika
Rasulullah Saw ditanya oleh seorang sahabat : “Ya Rasululullah, kepada siapa
aku harus berbakti selain kepada Allah swt?”. Rasul menjawab: “Ibumu”, sahabat
bertanya lagi: “ Ya Rasulullah kepada siapa lagi aku harus berbakti?”.
Rasulullah menjawab: “Ibumu”. Sahabat itu bertanya lagi: “Ya Rasulullah kepada
siapa lagi aku harus berbakti?”. Rasul Saw masih menjawab : “Ibumu”. Ke-empat
kalinya sahabat tersebut bertanya lagi: “Ya Rasulullah kepada siapa lagi aku
harus berbakti?”, Rasulullah Saw baru menjawab: “Bapakmu”.
Sampai tiga kali
Rasul menyebutkan bahwa kita harus berbakti dan menghormati ibu. Sementara
bapak, Rasul Saw hanya menyebutkan satu kali. Hal ini menunjukkan begitu
pentingnya berbakti dan menghormati ibu –seorang perempuan- yang telah
mengandung, melahirkan dan membesarkan kita. Secara logika, hal ini memang bisa
dipahami, mengapa seorang ibu harus lebih dihormati dari seorang bapak?.
Jawabannya adalah karena ada Tiga hal kelebihan (kodrat) ibu yang tidak bisa
dilakukan oleh bapak, yaitu: (1)Mengandung, (2)Melahirkan, dan (3)Menyusui. Ketiga
kodrati kaum perempuan inilah yang menjadikan kedudukan perempuan (ibu) menjadi
teramat mulia dan luhur.
Namun adanya ketiga kodrat tersebut, tidak menghalangi
kaum perempuan untuk berkarya (karier) di luar rumah. Sehingga saat ini telah
susah dihitung dengan jari, seorang perempuan yang berani mengungkapkan sesuatu, baik melalui suara,
gerak, ekpresi, serta keterlibatan mereka dalam segala bidang. Keberadaan
mereka tidak saja diakui komunitas internal tapi juga mendapat acungan jempol
dari komunitas eksternal yang selama ini sering menyangsikan potensi mereka.
Penyangsian akan ilmu, kemampuan dan keberanian, kekuatan fisik yang terbatas,
kelemahan pada mental, hingga kecerdasan otak dalam menganalisa sesuatu.
Sesungguhnya potensi kaum perempuan sebagai salah satu
unsur dalam menunjang pembangunan Nasional di Indonesia tidak disangsikan lagi,
karena separuh dari penduduknya adalah perempuan. Apalagi angka-angka statistik
tentang populasi rakyat Indonesia
menggambarkan bahwa perempuan Indonesia
merupakan suatu potensi sumber daya manusia yang cukup besar. Kalau potensi
yang besar ini tidak didorong dan didukung serta dimanfaatkan secara optimal
dalam pembangunan nasional, maka kemungkinan bangsa dan negara ini akan
mengalami kelambanan atau bahkan kemunduran .
Ini berarti kaum
perempuan mempunyai peluang besar untuk berperan aktif dalam pembangunan
nasional. Terbukti saat ini keberadaan mereka bermunculan ibarat jamur di musim
hujan, karena memang sudah saatnya kaum perempuan berani untuk tampil menjadi
yang terdepan dalam mengasah ketajaman intelektual dan mengerahkan kemampuan
yang mereka miliki. Dan pada akhirnya, tindakan mereka ini juga mendapat respon
yang positif dari kaum laki-laki.
Contoh nyata dapat kita lihat dalam keterlibatan mereka
dalam ranah politik di tata pemerintahan Indonesia. Dulu sedikit sekali
perempuan Indonesia
yang dapat menjadi anggota dewan (MPR/DPR), menteri dan jabatan – jabatan
penting lainnya, namun sekarang banyak jabatan - jabatan penting yang dijabat oleh
perempuan Indonesia.
Bahkan sekitar tahun 2002/2003 presiden RI juga dijabat oleh seorang perempuan
(Presiden Megawati Soekarno Putri). Kalau dulu jabatan menteri yang dijabat
perempuan hanya menteri peranan wanita (sekarang Mentri Pemberdayaan
Perempuan), namun saat ini banyak jabatan menteri yang dijabat perempuan seperti menteri keuangan dan menteri
kesehatan. Dulu jarang sekali perempuan dapat menjabat sebagai kepala daerah,
namun sekarang banyak jabatan kepala daerah baik tingkat Kabupaten ataupun Provinsi
yang yang dijabat perempuan Indonesia.
Melihat fenomena diatas, ada kenyataan yang menarik
antara kiprah politik perempuan dengan laki-laki, ternyata keduanya mempunyai
potensi yang sama, yakni sama-sama berpotensi baik dan tidak tertutup
kemungkinan mempunyai potensi buruk. Sayangnya, stigma umum kerap mengatakan
kalau potensi buruk lebih banyak kemungkinan terlakoni pada perempuan. Dan
stigma ini semakin kuat ketika pentas politik Indonesia di tahun 2003 menampilkan
politikus perempuan yang tidak seperti yang dibayangkan. Walau tidak semua
seperti itu, tetapi pemandangan fenomenal itu bisa menguatkan stigma tidak enak
(tidak baik) untuk kiprah politik kaum perempuan yang sesungguhnya mampu
berbuat banyak untuk bangsa ini.
Sebagai contoh adalah seorang politikus perempuan (Ratu
Balqis) yang diceritakan Al Quran dalam Surat An Naml ayat 32 - 35. Mencermati ayat
tersebut, maka akan terlihat jelas bagaimana sosok Ratu Balqis seorang penguasa
tertinggi Kerajaan Saba di negeri Yaman dalam membuat kebijakan politik untuk
negeri yang dipimpinnya. Ia lebih mengedepankan musyawarah dengan bawahannya
dibanding kepentingan pribadi, lebih menempuh jalan damai dibanding peperangan,
serta lebih mementingkan kemaslahatan yang banyak bagi rakyat yang dipimpinnya.
Itulah fakta sejarah yang ditampilkan Al Quran yang mengungkapkan bahwa pernah
ada seorang politikus perempuan yang begitu piawai dalam mengelola jabatan
politiknya dan begitu bijak dalam menelurkan kepentingan-kepentingan politiknya.
Ungkapan diatas bukan membanding-bandingkan antara peran
politik perempuan dengan laki-laki. Apalagi menarik garis dikotomi antar keduanya
karena Allah SWT menciptakan kedua jenis manusia bukan untuk saling
menyalahkan, tapi justru sebagai mitra untuk saling melengkapi. Mitra suami
dalam lingkungan keluarga, menjadi mitra kaum laki-laki di dalam lingkungan
sosial kemasyarakatan.
Salah satu bukti hasil perjuangan kaum perempuan Indonesia saat
ini adalah dengan keluarnya Undang-undang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan
dengan disahkannya UU Pornografi dan Pornoaksi –meski masih pro dan kontra- dimana
kedua UU tersebut betul-betul melindungi
hak-hak kaum perempuan. Ini menunjukan betapa kaum perempuan Indonesia telah
begitu mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah. UU KDRT melindungi
perempuan dari sikap dzalim suami, dimana sepanjang tahun 2007 terjadi 146
kasus KDRT pada istri (Suara Merdeka, 12 Nov. 2008:13). Dan dengan adanya UU
Pornografi dan Pornoaksi diharapkan semoga kaum perempuan tidak lagi menjadi
komoditas yang diperjualbelikan pada beberapa jenis industri, akan tetapi justru
dapat menjadi rambu-rambu bagi perempuan Indonesia dalam menumpahkan
ekspresinya.
Dalam rangka seratus tahun kebangkitan perempuan
Indonesia, maka kaum perempuan Indonesia harus terus mengasah ketajaman
intelektual dan mengerahkan segenap potensi yang dimiliki sehingga selain akan
terus melahirkan karya-karya yang positif juga mampu bersaing dengan mitranya
kaum laki-laki dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan di bumi pertiwi
tercinta ini, tentu saja dengan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai perempuan.
Dan akhirnya, semoga hidayah dan taufik-Nya senantiasa menyertai semua
aktivitas kita untuk mencapai ridho-Nya Amiin.
IDENTITAS
DIRI
NAMA : NY. SYARIFUDIN, S.Ag
TEMPAT/TGL LAHIR :
KUNINGAN, 20 JUNI 1975
WARGA NEGARA :
INDONESIA
AGAMA :
ISLAM
PEKERJAAN :
PNS (PENYULUH AGAMA ISLAM KEC.
BOJONGSARI KANDEPAG KAB. PBG
TEMPAT TINGGAL :
DESA GEMBONG RT 05 RW 03 NO.8 KEC.
BOJONGSARI KAB. PURBALINGGA
UTUSAN :
DHARMA WANITA PERSATUAN KEC.
KALIMANAH KAB. PURBALINGGA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat sore dan Salam Sejahtera untuk kita semua.
Puji dan Syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah
SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan kenikmatan yang tiada
terhingga kepada kita semua, dimana semenjak kita bangun tidur sampai tidur
kembali, beratus, beribu bahkan mungkin berjuta-juta nikmat yang kita rasakan setiap
detik nafas kita, yang jika dihitung-hitung, tak akan mampu untuk
menghitungnya. Dan atas karunia-Nya pula, pada kesempatan Jum’at sore ini kita
masih diberi kesempatan untuk berkomunikasi melalui udara di saluran Radio
Suara Perwira. Semoga segala aktivitas kita senantiasa mendapat ridho Allah SWT
Amiin ya Robbal’alamiin.
Pendengar Suara Perwira yang Berbahagia dan Dirahmati
Allah…
Kami dari Dharma Wanita Persatuan Kecamatan Kalimanah pada
kesempatan sore hari ini akan menyampaikan sebuah renungan di penghujung tahun
ini, dimana pada bulan Desember ini ada dua peringatan yang sangat bermakna
bagi kaum perempuan Indonesia.
Pertama adalah peringatan HUT Dharma Wanita Persatuan yang ke-9 pada tanggal 07
Desember yang khusus diperingati oleh para istri abdi negara (PNS), dan kedua
adalah peringatan Hari Ibu ke-80 pada tanggal 22 Desember dimana peringatan ini
bermula saat berlangsungnya Kongres Wanita Indonesia pertama yang dilaksanakan
tanggal 22 Desember 1928 di Jakarta, dengan tujuan untuk menghargai, mengenang
dan membalas jasa-jasa kaum ibu yang sesungguhnya tak akan pernah bisa
terbalaskan. Maka untuk selanjutnya pada setiap tanggal 22 Desember
diperingatilah sebagai Hari Ibu oleh seluruh bangsa Indonesia.
Adanya tradisi
memperingati hari ibu ini, hendaknya dapat kita jadikan sebagai sebuah momentum
untuk senantiasa memuliakan peran kaum perempuan khususnya kaum ibu. Namun
demikian, pemuliaan dan penghormatan tersebut jangan hanya terbatas pada
sisi-sisi ceremonialnya saja. Sebagai contoh: dengan memberikan kado istimewa
untuk ibu, atau ketika datang hari ibu maka tugas-tugas memenej keluarga yang
menjadi porsinya ibu berhenti sama sekali dan sementara digantikan oleh ayah
atau anak-anaknya. Hal ini memang baik untuk dilakukan, namun jangan hanya
sebatas itu cara memuliakan dan menghormati ibu. Karena penghormatan dan
pemuliaan yang dilakukan harus menyentuh esensi dan nilai dasar sehingga tidak
sebatas pemuliaan anak terhadap ibu yang melahirkannya saja, akan tetapi harus
mencakup spektrum yang lebih luas yakni kepada seluruh manusia dan masyarakat
pada umumnya.
Pendengar Suara
Perwira yang Dirahmati Allah…….
Ada sebuah Hadits Rasulullah saw yang secara
eksplisit memberikan gambaran mengenai keharusan untuk menghormati dan
memuliakan seorang ibu.
“Bahwa pada suatu ketika
Rasulullah Saw ditanya oleh salah seorang sahabat : “Wahai Rasululullah, kepada
siapa aku harus berbakti selain kepada Allah SWT?”. Rasul menjawab: “Ibumu”,
sahabat itu bertanya lagi:
“Wahai Rasulullah kepada
siapa lagi aku harus berbakti?”. Rasulullah menjawab: “Ibumu”. Sahabat itu
bertanya lagi untuk ketiga kalinya: “Wahai Rasulullah kepada siapa lagi aku
harus berbakti?”. Rasul Saw masih menjawab : “Ibumu”. Dan keempat kalinya
sahabat tersebut bertanya lagi: “Wahai Rasulullah kepada siapa lagi aku harus
berbakti?”, Rasulullah Saw baru menjawab: “Bapakmu”.
Sampai tiga kali
Rasul menyebutkan bahwa kita harus berbakti dan menghormati ibu. Sementara
bapak, Rasul Saw hanya menyebutkan satu kali. Hal ini bukan berarti kita tidak
harus menghormati bapak, akan tetapi ini menunjukkan begitu pentingnya
berbakti, menghormati dan memuliakan ibu –seorang perempuan- yang telah
mengandung, melahirkan dan membesarkan kita. Secara logika, hal ini memang bisa
dipahami, mengapa seorang ibu harus lebih dihormati dari seorang bapak?.
Jawabannya adalah karena ada Tiga hal kelebihan yang menjadi kodrat seorang ibu
yang tidak bisa dilakukan oleh bapak, yaitu: (1)Mengandung, (2)Melahirkan, dan
(3)Menyusui. Ketiga kodrati kaum perempuan inilah yang menjadikan kedudukan
perempuan (ibu) menjadi teramat mulia dan luhur.
Pendengar Sura Perwira yang Berbahagia ….
Dapat kita bayangkan betapa payahnya seorang ibu yang
sedang mengandung janin dalam rahimnya selama sembilan bulan, kemanapun ia
pergi kandungan tersebut harus selalu dibawanya, tak bisa ditinggalkan walau
hanya sekejap saja. Pun ketika tidur ia kelihatan begitu susah payahnya, mau
terlentang nafas terasa terengah-engah, mau berbaring miring terasa berat sebelah,
mau telungkup takut janinnya terjepit. Bila sudah tiba saat melahirkan, dengan
segala daya dan upaya, diantara hidup dan mati, dan tetap memanjatkan do’a
memohon pertolongan-Nya semoga bayi yang dilahirkannya dalam keadaan selamat
dan sehat dengan tanpa memikirkan keselamatan dirinya. Dengan kondisi yang
payah seperti itu, ia tetap sabar dan tegar, tidak ada perasaan menyesal,
gelisah apalagi mengeluh. Semua itu diterimanya dengan senang hati dan penuh
keikhlasan.
Hal ini diungkapkan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Lukman ayat 14 yang
berbunyi :
“Dan Kami perintahkan
kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya,ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan susah payah dan menyapihnya dalam dua tahun.
Beryukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmua, hanya kepada Akulah
kamu kembali”.
Demikian, Al-Qur’an memberikan perhatian yang begitu
besar tentang reproduksi yang diamanatkan kepada kaum ibu, dimana reproduksi
adalah merupakan tugas kemanusiaan yang sangat mulia, sehingga reproduksi bukan
semata kewajiban dan kodrat yang melekat pada diri kaum ibu. Dalam surat Lukman tadi, Allah SWT
secara khusus menyampaikan pesan kepada umat manusia untuk senantiasa berbuat
baik kepada kedua orangtua. Dan yang disebut secara eksplisit adalah ibu,
karena ibulah yang menjalankan tugas reproduksi, yakni mengandung, melahirkan
dan menyusui anak yang dilahirkannya. Begitulah susah payah dan keluh kesahnya
seorang ibu, sehingga pantaslah bila Rasulullah saw mengajarkan kepada kita
bahwa ibulah yang harus pertama kali kita hormati baru kemudian bapak.
Pendengar Suara Perwira yang Berbahagia dan Dirahmati
Allah……
Dalam Hadits lain, Rasul saw pernah bersabda :
“Surga itu berada
di bawah telapak kaki ibu”.
Hal ini menunjukan betapa tingginya derajat kaum
perempuan, sampai-sampai diibaratkan bahwa surga itu berada di bawah telapak
kakinya. Namun hal ini juga merupakan suatu isyarat bahwa tanggung jawab yang
besar harus dipikul oleh kaum ibu dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya
menjadi anak-anak yang shaleh, yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, melahirkan anak sesungguhnya bukanlah
–kalau bisa dikatakan- sebuah prestasi atau hasil kerja yang gemilang dari
seorang ibu. Dipandang dari ilmu biologi reproduksi, kelahiran anak memang tidak
lebih dari sebuah proses biologis semata. Namun bagi kita sebagai manusia,
kelahiran seorang anak memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Konsekuensi ini
berkaitan erat dengan tanggung jawab moral dan etik kedua orang tuanya. Akan
menjadi prestasi yang gemilang jika orang tua mampu mempersiapkan kelahiran
anak yang dilahirkan, mampu memberi fasilitas hidup yang berdimensi jasmani dan
rohani dan mampu meningkatkan mutu kualitas hidup anak-anaknya. Karena itulah
tugas utama sebuah keluarga. Maka Insya Allah harapan untuk menjadi keluarga
yang sakinah, mawadah dan rohmah akan tercapai.
Apalagi di zaman
yang serba cepat berubah seperti saat ini, untuk mencapai kesejahteraan sebuah
keluarga akan mendapat tantangan yang semakin berat. Oleh sebab itu, peran kita
sebagai seorang ibu dalam menjalankan fungsinya sangatlah dominan. Meski
belaian tangan seorang ibu memang bisa menyejukan, namun terkadang tugas maha
berat itu malah dianggap sepele oleh banyak pihak. Sehingga idealnya tugas maha
berat itu tidak hanya ditanggung oleh ibu saja, namun ayah pun memiliki
tanggung jawab moral yang sama dalam mengasuh, merawat dan mendidik
anak-anaknya. Jika diibaratkan, maka pola hidup sebuah keluarga tak ubahnya
seperti sebuah “Teamwork” yang saling menunjang; saling mendukung satu sama
lain.
Pendengar Suara Perwira yang Berbahagia dan Dirahmati
Allah SWT……..
Dalam rangka memperingati Hari Ibu yang ke-80 ini,
sebuah harapan bahwa keterlibatan kaum perempuan Indonesia menyangkut dunia
kerja, rumah tangga, pendidikan dan peran perempuan baik disektor industri ataupun
pemerintahan dapat terus diwujudkan. Semoga melalui peringatan Hari Ibu tahun
ini membawa “angin perubahan” yang positif bagi kaum perempuan Indonesia.
Semoga!!!
Demikian, sebuah renungan yang dapat kami sampaikan.
Semoga bermamfaat bagi kita semua. Dan akhirnya hanya kepada-Nyalah kita semua
bertawakal.
Akhirul-kalam Billahitaufik Walhidayah
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Dharma Wanita Persatuan
Kecamatan
Kalimanah
Jum’at, 05
Desember 2008
NASKAH
SIARAN
RADIO
“SUARA PERWIRA”
KABUPATEN
PURBALINGGA
“RENUNGAN DI HARI IBU”
DHARMA WANITA PERSATUAN
KEC. KALIMANAH KAB.
PURBALINGGA
JUM’AT, 05 DESEMBER 2008
LOMBA
PENULISAN OPINI
DHARMA
WANITA PERSATUAN KAB. PURBALINGGA
THEMA
: SERATUS TAHUN KEBANGKITAN PEREMPUAN INDONESIA
“NASIB PEREMPUAN DARI MASA KE
MASA”
DHARMA WANITA PERSATUAN
KEC. KALIMANAH KAB.
PURBALINGGA
20
NOVEMBER 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar