ISTIGHFAR DAN TAUBAT
A.
Hakikat Istighfar dan Taubat
Sebagian besar orang menyangka
bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mere-ka
mengucapkan, "Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat ke-padaNya"
Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam
hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya
istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta. Imam
Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: "Dalam istilah syara', taubat adalah
meninggalkan dosa karena ke-burukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan,
berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha mela-kukan apa yang
bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat
taubatnya telah sempurna"
Imam An-Nawawi dengan
redaksionalnya sendiri menjelaskan: "Para ulama berkata, 'Bertaubat dari
setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan
Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada
tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia
harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan
untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak
sah. Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga
syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang
tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus
mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau seje-nisnya
maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta maaf
kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta
maaf."
Adapun istighfar, sebagaimana
diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah "Meminta (ampunan) dengan
ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah: "Mohonlah ampun kepada
Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun." (Nuh: 10). Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun
hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga
dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa
disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.
B. Dalil Syar'i Bahwa Istighfar dan
Taubat Termasuk Kunci Rizki
1. Apa yang disebutkan Allah tentang Nuh
yang berkata kepada kaumnya :
"Maka aku katakan
kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu', sesungguhnya Dia adalah
Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan
membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan
mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai'." (Nuh:
10-12).
Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal
berikut dengan istighfar.
- Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan fir-manNya: "Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun."
- Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas radhiallaahu anhu berkata " " adalah (hujan) yang turun dengan deras.
- Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan ayat:Atha' berkata: "Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian".
- Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.
- Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi berkata: "Dalam ayat ini, juga disebutkan dalam (surat Hud) adalah dalil yang menunjukkan bah-wa istighfar merupakan salah satu sarana meminta ditu-runkannya rizki dan hujan."
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam
Tafsirnya berkata: "Makna-nya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta
ampun kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya niscaya Ia akan membanyakkan
rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit,
mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk
kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, mem-banyakkan harta dan
anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam
buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun
itu (untuk kalian)."
2. Ayat lain adalah firman Allah
yang menceritakan tentang seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar.
"Dan (Hud berkata),
'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya
Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan
kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (Hud:52).
Al-Hafizh Ibnu katsir dalam
menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: "Kemudian Hud
memerintahkan kaumnya untuk beristighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu
dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan
mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan
memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu
Allah berfirman: "Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat
atas-mu".
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk
orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah
rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat
Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.
3. Ayat yang lain adalah firman Allah:
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada
Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya
Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada
waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang
mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat." (Hud: 3).
Pada ayat yang mulia di atas,
terdapat janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan
yang baik kepada orang yang beristighfar dan bertaubat. Dan maksud dari
firmanNya:
"Niscaya Dia akan memberi
kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu." Sebagaimana dikatakan
oleh Abdullah bin Abbas adalah, "Ia akan menganugerahi rizki dan
kelapangan kepada kalian".
Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam
tafsirnya mengatakan: "Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah
akan memberi kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan
rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang
dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.
Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia
itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh
Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: "Ayat yang mulia tersebut
menunjukkan bahwa beristighfar dan ber-taubat kepada Allah dari dosa-dosa
adalah sebab sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang
yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentu-kan. Allah memberikan balasan
(yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan
syarat yang ditetapkan".
TAQWA
Oleh
: Muthmainnah, SHI
A. MAKNA TAQWA
Para ulama telah menjelaskan apa
yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani
mendefinisikan: "Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya
berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan
meninggalkan sebagian yang dihalalkan".
Sedangkan Imam An-Nawawi
mendefinisikan taqwa dengan "Mentaati perintah dan laranganNya."
Maksudnya, menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah . Hal itu sebagaimana
didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani "Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan
yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau
meninggalkannya."
Karena itu, siapa yang tidak
menjaga dirinya, dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang bertaqwa. Maka
orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah, atau
mendengarkan dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Allah, atau mengambil
dengan kedua tangan-nya apa yang tidak diridhai Allah, atau berjalan ke tempat
yang dikutuk Allah, berarti tidak menjaga dirinya dari dosa. Jadi, orang yang
membangkang perintah Allah serta me-lakukan apa yang dilarangNya, dia bukanlah
termasuk orang-orang yang bertaqwa. Orang yang menceburkan diri ke dalam
maksiat sehingga ia pantas mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah
mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.
B. TAQWA TERMASUK KUNCI RIZKI
Beberapa nash yang
menunjukkan bahwa taqwa termasuk di antara sebab rizki, Di antaranya:
1.
Firman Allah: "Barangsiapa yang
bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya
rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3).
Dalam ayat di atas, Allah
menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua
hal. Pertama, "Allah akan mengadakan jalan keluar baginya." Artinya,
Allah akan menyelamatkannya –sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu
– dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat. Kedua, "Allah akan
memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka." Artinya, Allah
akan memberi-nya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam
tafsirnya mengatakan: "Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah
de-ngan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya,
niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak
disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam
benaknya,"
2.
Ayat lainnya adalah firman Allah: "Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri". (Al-A'raf:
96).
Dalam ayat yang mulia ini Allah
menjelaskan, seandainya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal, yakni
iman dan taqwa, niscaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka
dan memudahkan mereka menda-patkannya dari segala arah.
Janji Allah yang terdapat dalam
ayat yang mulia tersebut terhadap orang-orang beriman dan bertaqwa mengandung beberapa
hal, di antaranya:
a.
Janji Allah untuk membuka " " (keberkahan) bagi mereka. ""
adalah bentuk jama' dari " " Imam Al-Baghawi berkata, Ia berarti
mengerjakan sesuatu secara terus menerus. Atau seperti kata Imam Al-Khazin,
"Tetapnya suatu kebaikan Tuhan atas sesuatu."
Jadi, yang dapat disimpulkan dari
makna kalimat " " adalah bahwa apa yang diberikan Allah disebabkan
oleh keimanan dan ketaqwaan mereka merupakan kebaikan yang terus menerus, tidak
ada keburukan atau konsekuensi apa pun atas mereka sesudahnya.
Tentang hal ini, Sayid Muhammad
Rasyid Ridha berkata: "Adapun orang-orang beriman maka apa yang dibukakan
untuk mereka adalah berupa berkah dan kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka
senantiasa bersyukur kepada Allah, ridha terhadapNya dan mengharapkan
karuniaNya. Lalu mereka menggunakannya di jalan kebaikan, bukan jalan
keburukan, untuk perbaikan bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka
dari Allah adalah ditambahnya berbagai kenikmatan di dunia dan pahala yang baik
di akhirat."
b. Kata berkah disebutkan dalam
bentuk jama' sebagai-mana firman Allah:
"Pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berbagai berkah." Ayat ini, sebagaimana disebutkan
Syaikh Ibnu Asyur untuk menunjukan banyaknya berkah sesuai dengan banyaknya
sesuatu yang diberkahi.
c.
Allah berfirman: "Berbagai keberkahan dari langit dan bumi". Menurut
Imam Ar-Razi, maksudnya adalah keberkahan langit dengan turunnya hujan,
keberkahan bumi dengan tumbuhnya berba-gai tanaman dan buah-buahan, banyaknya
hewan ternak dan gembalaan serta diperolehnya keamanan dan keselamatan. Hal ini
karena langit adalah laksana ayah, dan bumi laksana Ibu. Dari keduanya
diperoleh semua bentuk manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan
pengurusan Allah ."
3.
Ayat lainnya adalah firman Allah: "Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh
menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada mereka
dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari
bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan pertengah-an. Dan alangkah
buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka". (Al-Ma'idah:
66).
Allah mengabarkan tentang
Ahli Kitab, 'Bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat,
Injil dan Al-Qur'an –demikian seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas c dalam
menafsirkan ayat terse-but,– niscaya Allah memperbanyak rizki yang
diturunkan kepada mereka dari langit dan yang tumbuh untuk mereka dari bumi.
Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi
berkata: "Allah menghendaki –wallahu a'lam– bahwa seandainya
mereka mengamalkan apa yang diturunkan di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an,
niscaya mereka memakan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Maknanya –wallahu'alam–,
niscaya mereka diberi kelapangan dan kesempurnaan nikmat du-nia,"
Sebagaimana disebutkan dalam
ayat-ayat di atas, Allah menjadikan ketaqwaan di antara sebab-sebab rizki dan
men-janjikan untuk menambahnya bagi orang yang bersyukur.
Allah berfirman:
"Jika kalian bersyukur,
niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku atasmu." (Ibrahim: 7).
Karena itu, setiap orang yang
menginginkan keluasan rizki dan kemakmuran hidup, hendaknya ia menjaga dirinya
dari segala dosa. Hendaknya ia menta'ati perintah-perintah Allah dan menjauhi
larangan-laranganNya. Juga hendaknya ia menjaga diri dari yang menyebabkan
berhak mendapat siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan
kebaikan.
BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH
Oleh
: Muthmainnah, SHI
A. Yang Dimaksud Bertawakkal kepada Allah
Para ulama telah menjelaskan makna
tawakkal. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata: "Tawakkal
adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang di-tawakkali)
semata."
Al-Allamah Al-Manawi berkata:
"Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada
yang di tawakkali."
Menjelaskan makna tawakkal kepada
Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qori berkata:
"Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam
alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun
rizki, pem-berian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau
kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai
sesuatu yang maujud (ada), semua-nya itu adalah dari Allah."
B. Bertawakkal kepada Allah Termasuk Kunci Rizki
Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu
Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha'i dan Al-Baghawi
meriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah bersabda: "Sungguh,
seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya
kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat
pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan
kenyang."
Dalam hadits yang mulia ini,
Rasulullah yang ber-bicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang
bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi
rizki oleh Allah sebagaimana burung-burung diberiNya rizki. Betapa tidak
demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, Yang tidak
pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya Allah akan
mencukupinya. Allah berfirman: "Dan barangsiapa bertawakkal
kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Se-sungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq: 3).
C. Apakah Tawakkal itu Berarti Mening-galkan Usaha?
Sebagian orang mukmin ada yang
berkata: "Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki,
maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita
cukup duduk-duduk dan bermalasan-malasan, lalu rizki kita datang dari langit?"
Perkataan ini sungguh menunjukkan
kebodohan orang yang mengucapkan tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia
telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan di-beri rizki itu dengan burung
yang pergi di pagi hari dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak
memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan
tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa dan Yang
kepadanya tempat bergantung. Dan sungguh para ulama –semoga Allah membalas
mereka dengan sebaik-baik kebaikan– telah memperingatkan masa-lah ini.
Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata: " Dalam hadits tersebut
tidak ada isyarat yang membolehkan untuk meninggalkan usaha, sebaliknya justru
di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud
hadits tersebut, bahwa seandainya mereka berta-wakkal kepada Allah dalam
kepergian, kedatangan dan usa-ha mereka, dan mereka mengetahui kebaikan (rizki)
itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan
mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut."
Imam Ahmad pernah ditanya tentang
seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau masjid seraya berkata, 'Aku
tidak mau bekerja sedikit pun, sampai rizkiku datang sendiri'. Maka beliau
berkata, Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi
bersabda:
"Sesungguhnya Allah telah
menjadikan rizkiku melalui panahku."
Dan beliau bersabda:"Sekiranya
kalian bertawakkal kepada Allah dengan se-benar-benar tawakkal, niscaya Allah
memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung berangkat
pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan
kenyang."
Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu
berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka men-cari rizki.
Selanjutnya Imam Ahmad berkata: "Para Sahabat
berda-gang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itu-lah teladan
kita".
Syaikh Abu Hamid berkata: "Barangkali ada yang
mengi-ra bahwa makna tawakkal adalah , meninggalkan pekerjaan secara fisik,
meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah
seperti sobekan kain yang di-lemparkan, atau seperti daging di atas landasan
tempat me-motong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu
adalah haram menurut hukum syari'at. Sedangkan syari'at memuji orang yang
bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin sesuatu derajat ketinggian dalam agama
dapat di-peroleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula?
Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita
kata-kan, "Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak da-lam gerak dan
usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya".
Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkata:
"Ketahuilah se-sungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun
gerak secara lahiriah hal itu tidak bertentangan dengan ta-wakkal yang ada di
dalam hati setelah seorang hamba me-yakini bahwa rizki itu datangnya dari
Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena taqdirNya, dan jika
terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya."
Di antara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada
Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh
Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja'far bin Amr bin Umayah dari ayahnya
, ia berkata:
"Seseorang berkata kepada Nabi , Aku lepaskan
unta-ku dan (lalu) aku bertawakkal?' Nabi bersabda: 'Ikatlah kemudian
bertawakkallah'."
Dan dalam riwayat Al-Qudha'i disebutkan:"Amr
bin Umayah berkata: 'Aku bertanya,'Wahai Rasulullah, Apakah aku ikat
dahulu (tunggangan)ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan
begitu saja lalu aku bertawakkal?' Beliau menjawab, 'Ikatlah kendaran (unta)mu
lalu bertawakkallah'."
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa
tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib
berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan.
Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan
usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan
bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.
PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK
Oleh : Muthmainnah,SHI
MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA
Periode
pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang
amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat
mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak
pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada
kepribadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al
Muatstsirat as Salbiyah.)
Karena itu,
para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam
periode ini.
Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai berikut:
Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai berikut:
1.
Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orangtua,
terutama ibu.
Ini perlu
sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan
cintakasih ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci
orang disekitamya. "Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak
ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak
kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak
seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan
ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang
memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak." (Muhammad
Quthub,Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)
Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.
Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.
2.
Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal
kehidupannya.
Kami kira,
ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahwa membiasakan anak
untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang
mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan
terbiasa dan terlatih dengan hal ini.
Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.
Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.
3.
Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan
kehidupannya.
Yaitu
dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam
pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil
dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua
melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh
yang besar sekali pada pribadi anak. "Karena kemampuan anak untuk
menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar sekali. Terkadang
melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil
yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa
yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat
yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru,
meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.
Akan tetapi
hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara
tidak sadar, atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak
sadar, atau tanpa kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di
sekitamya." (Ibid.)
4. Anak dibiasakan dengan etiket
umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya. - Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.
- Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.
- Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.
- Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.
- Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.
- Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.
- Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.
- Dibiasakan membaca "AZhamdulillah" jika bersin, dan mengatakan "Yarhamukallah" kepada orang yang bersin jika membaca "Alhamdulillah".
- Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.
- Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).
- Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.
- Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan "Assalamu 'Alaikum" serta membalas salam orang yang mengucapkannya.
- Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.
- Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.
- Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.
- Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri.
Pada
periode ini anak menjadi lebih siap untuk belajar secara teratur. Ia mau
menerima pengarahan lebih banyak, dan lebih bisa menyesuaikan diri dengan
teman-teman sepermainannya. Dapat kita katakan, pada periode ini anak lebih
mengerti dan lebih semangat untuk belajar dan memperoleh
ketrampilan-ketrampilan, karenanya ia bisa diarahkan secara langsung. Oleh
sebab itu, masa ini termasuk masa yang paling penting dalam pendidikan dan
pengarahan anak.
1. Pengenalan Allah dengan cara yang sederhana. - Bahwa Allah Esa, tiada sekutu bagi-Nya.
- Bahwa Dialah Pencipta segala sesuatu. Pencipta langit, bumi, manusia, hewan, pohon-pohonan, sungai dan lain-lainnya. Pendidik dapat memanfaatkan situasi tertentu untuk bertanya kepada anak, misalnya ketika bejalan-jalan di taman atau padang, tentang siapakah Pencipta air, sungai,bumi,pepohonan dan lain-lainnya, untuk menggugah perhatiannya kepada keagungan Allah.
- Cinta kepada Allah, dengan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah untuknya dan untuk keluarganya. Misalnya, anak ditanya: Siapakah yang memberimu pendengaran, penglihatan dan akal? Siapakah yang memberimu kekuatan dan kemampuan untuk bergerak? Siapakah yang memberi rizki dan makanan untukmu dan keluargamu? Demikianlah, ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang nyata dan dianjurkan agar cinta dan syukur kepada Allah atas nikmat yang banyak ini.
Diajarkan
kepada anak menutup aurat, berwudhu, hukum-hukum thaharah (bersuci) dan
pelaksanaan shalat. Juga dilarang dari hal-hal yang haram, dusta, adu domba,
mencuri dan melihat kepada yang diharamkan Allah. Pokoknya, disuruh menetapi
syariat Allah sebagaimana orang dewasa dan dicegah dari apa yang dilarang
sebagaimana orang dewasa, sehingga anak akan tumbuh demikian dan menjadi
terbiasa. Karena bila semenjak kecil anak dibiasakan dengan sesuatu, maka kalau
sudah dewasa akan menjadi kebiasaannya. Agar diupayakan pula pengajaran ilmu
pengetahuan kepada anak, sebagaimana kata Sufyan Al Tsauri: "Seorang
bapak barns menanamkan ilmu pada anaknya, karena dia pmanggung jawabnya."
(Muhammad Hasan Musa, Nuzharul Fudhala' Tahdzib Siar A'lamin Nubala :Juz
1.)
3. Pengajaran
baca Al Qur'an.
Al Qur'an
adalah jalan lurus yang tak mengandung suatu kebatilan apapun. Maka amat baik
jika anak dibiasakan membaca Al Qu~an dengan benar, dan diupayakan
semaksimalnya agar mengbafal Al Qur'an atau sebagian besar darinya dengan
diberi dorongan melalui berbagaicara. Karena itu, kedua orangtua bendaklah
berusaha agar putera puterinya masuk pada salah satu sekoiah tahfizh Al Qur'an;
kalau tidak bisa, diusahakan masuk pada salah satu halaqah tahfizh.
Diriwayatkan Abu Dawud dari Mu'adz bin Anas bahwa Nabi shallallahu alaihi
wasalam bersabda:"Barang siapa membaca Al-quran dan mengamalkan kandungan
isinya, niscaya Allah pada hari kiamat mengenakan kepada keda orang
tuanya sebuah mahkota yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di
rumah-rumah dunia. Maka apa pendapatmu tentang orang yang mengamalkan hal
ini".
Para salaf
dahulu pun sangat memperhatikan pendidikan tahfizh Al Qur'an bagi
anak-anak mereka. Syaikh Yasin bin Yusuf Al Marakisyi menceritakan kepada kita
tentang imam AnNawawi, Rahimahullah, katanya: "Aku melihat beliau ketika
masih berumur 10 tahun di Nawa. Para anak kecil tidak mau bermain dengannya dan
iapun berlari dari mereka seraya menangis, kemudian ia membaca Al Qur'an. Maka
tertanamlah dalam hatiku rasa cinta kepadanya. Ketika itu bapaknya menugasinya
menjaga toko, tetapi ia tidak mau bejualan dan menyibukkan diri dengan Al
Qur'an. Maka aku datangi gurunya dan berpesan kepadanya bahwa anak ini
diharapkan akan menjadi orang yang paling alim dan zuhud pada zamannya serta
bermanfaat bagi umat manusia. Ia pun berkata kepadaku: Tukang
ramalkah Anda? Jawabku: Tidak, tetapi Allah-lah yang membuatku berbicara
tentang hal ini. Bapak guru itu kemudian menceritakan kepada orangtuanya,
sehingga memperhatikan beliau dengan sungguh-sungguh sampai dapat khatam Al
Qur'an ketika menginjak dewasa."
4, Pengajaran
hak-hak kedua orangtua,
Diajarkan
kepada anak untuk bersikap hormat, taat dan berbuat baik kepada kedua
orangtua, sehingga terdidik dan terbiasa demikian. Anak sering bersikap
durhaka dan melanggar hak-hak orangtua disebabkan karena kurangnya perhatian
orangtua dalam mendidik anak dan tidak membiasakannya berbuat kebaikan sejak usia
dini.
Firman
Allah Ta'ala :'Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesanyangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Surah Al-Isra': 23-24).
5. Pengenalan
tokoh-tokoh teladan yang agung dalam Islam.
Tokoh
teladan kita yang utama yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam, kemudian
para sahabat yang mulia Radhiallahu 'Anhum dan pengikut mereka dengan baik yang
menjadi contoh terindah dalam segala aspek kehidupan. Maka dikenalkan kepada
anak tentang mereka, diajarkan sejarah dan kisah mereka supaya meneladani
perbuatan agung mereka dan mencontoh sifat baik mereka seperti keberanian,
keprajuritan, kejujuran, kesabaran, kemuliaan, keteguhan pada kebenaran dan
sifat-sifat lainnya. Kisah atau kejadian yang diceritakan kepada anak hendaklah
sesuai dengan tingkat pengertiannya, tidak membosankan, dan difokuskan pada
penampilan serta penjelasan aspek-aspek yang baik saja sehingga mudah diterima
oleh anak.
6. Pengajaran etiket umum.
Seperti
etiket mengucapkan salam dan meminta izin, etiket berpakaian, makan dan nninum,etiket
berbicara dan bergaul dengan orang lain. Juga diajarkan bagaimana bergaul
dengan kedua orangtua, sanak famili yang tua, kolega orangtua, guru-gurunya,
kawan-kawannya dan teman sepermainannya. Diajarkan pula mengatur
kamamya sendiri, menjaga kebersihan rumah, menyusun alat bermain, bagaimana
bermain tanpa mengganggu orang lain dan bagaimana bertingkah laku di masjid dan
disekolahan. Pegajaran berbagai hal di atas dan juga lainnya pertama-tama harus
bersumber kepada Sunnah Rasulullah , lalu peri kehidupan para salaf yang
shaleh, kemudian karya tulis para pakar dalam bidang pendidikan dan tata
pergaulan.
7. Pengembangan rasa percaya diri dan tanggung
jawab dalam diri anak.
Anak-anak
sekarang ini adalah pemimpin hari esok. Karena itu, harus dipersiapkan dan
dilatih mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang nantinya akan
mereka lakukan. Hal itu bisa direalisasikan dalam diri anak melalui pembinaan
rasa percaya diri, penghargaan jati dirinya, dan diberikan kepada anak
kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan apa yang terbetik dalam
pikirannya, serta diberikan kepadanya dorongan agar mengerjakan urusannya
sendiri, bahkan ditugasi dengan pekejaan rumah tangga yang sesuai untuknya.
Misalnya, disuruh untuk membeli beberapa keperluan rumah dari warung terdekat;
anak perempuan diberi tugas mencuci piring dan gelas atau mengasuh adik.
Pemberian tugas kepada anak ini bertahap sedikit demi sedikit sehingga mereka
terbiasa mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang sesuai bagi
mereka.
Termasuk
pemberian tanggung jawab kepada anak, ia harus menanggung resiko perbuatan yang
dilakukannya. Maka diajarkan kepada anak bahwa ia bertanggung jawab atas
kesalahan yang dilakukannya serta dituntut untuk memperbaiki apa yang telah
dirusaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.
Seorang
anak jika terdidik untuk percaya diri akan mampu mengemban tanggung jawab yang
besar. Sebagaimana putera-putera para sahabat, mereka berusaha sungguh-sungguh
agar dapat ikut bersama para mujahidin Fisabilillah; sampai salah seorang di
antara mereka ada yang menangis karena Rasulullah belum mengizinkannya ikut
berperang bersama pasukan, tetapi karena simpati terhadapnya beliau pun
mengizinkannya; dan akhimya ia termasuk salah satu syuhada dalam peperangan
itu.
MEMPERHATIKAN. ANAK PADA MASA REMAJA
Pada masa
ini pertumbuhan jasmani anak menjadi cepat, wawasan akalnya bertambah luas,
emosinya menjadi kuat dan semakin keras, serta naluri seksualnya pun
mulaibangkit. Masa ini merupakan pendahuluan masa baligh.Karena itu, para
pendidik perlu memberikan perhatian terhadap masalah-masalah berikut dalam
menghadapi remaja:
- Hendaknya anak, putera maupun puteri, merasa bahwa dirinya sudah dewasa karena ia sendiri menuntut supaya diperlakukan sebagai orang dewasa, bukan sebagai anak kecil lagi.
- Diajarkan kepada anak hukum-hukum akilbaligh dan diceritakan kepadanya kisah-kisah yang dapat mengembangkan dalam dirinya sikap takwa dan menjauhkan diri dari hal yang haram.
- Diberikan dorongan untuk ikut serta melaksanakan tugas-tugas rumah tangga, seperti melakukan pekerjaan yang membuatnya merasa bahwa dia sudah besar.
- Berupaya mengawasi anak dan menyibukkan waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat serta mancarikan teman yang baik.
TATA CARA HAJI
Oleh : Muthmainnah,
SHI
Pertama: Haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Ia wajib
dilakukan sekali seumur hidup, berdasarkan firman Allah: "Mengerjakan
haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa
mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan
sesuatu) dari semesta alam." (Ali Imran: 97).
Dan
berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Islam itu dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa (di bulan) Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah." (Muttafaq Alaih).
Haji
diwajibkan dengan lima syarat: 1. Islam. 2.Berakal.
3.Baligh. 4.Merdeka.
5. Mampu. 6. Dan
bagi perempuan ditambah dengan satu syarat yaitu adanya mahram yang pergi
bersamanya. Sebab haram hukumnya jika ia pergi haji atau safar (bepergian)
lainnya tanpa mahram,
Syarat
kelima yakni mampu, meliputi kemampuan materi dan fisik. Barangsiapa
tidak mampu dengan hartanya untuk memenuhi biaya perjalanan, nafkah haji dan
sejenisnya maka ia tidak berkewajiban haji. Adapun orang yang mampu secara
materil, tetapi tidak mampu secara fisik dan jauh harapan sembuhnya, seperti
orang yang sakit menahun, orang yang cacat atau tua renta maka ia harus
mewakilkan hajinya kepada orang lain. Dan disyaratkan orang yang mewakilinya
sudah haji untuk dirinya sendiri.
Kedua:
Allah berfirman: "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimak-lumi,
barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka
tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan." (Al-Baqarah:
197).
Rafats
adalah bersetubuh atau yang merangsang kepadanya, berbuat fasik artinya berbuat
maksiat, sedang yang dimaksud berbantah-bantahan adalah berbantah-bantahan
secara batil atau berbantah-bantahan yang tidak ada manfaatnya, atau yang
bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

"Barangsiapa menunaikan haji sedang ia tidak melakukan rafats dan perbuatan fasik maka ia pulang (haji) sebagaimana hari ketika ia dilahirkan ibunya." (Muttafaq Alaih).

"Umrah ke umrah lainnya adalah kaffarah (peng-hapus dosa) antara keduanya, dan haji mabrur tiada lain balasannya selain Surga." (Muttafaq Alaih).
Karena
itu wahai Saudara Haji, waspadalah dari terperosok ke dalam maksiat, baik yang
besar maupun yang kecil. Seperti mengakhirkan shalat dari waktunya, ghibah
(menggunjing), namimah (mengadu domba), mencaci dan menghina,
mendengarkan nyanyian, men-cukur jenggot, isbal (menurunkan atau
memanjangkan pakaian/kain hingga di bawah mata kaki), merokok, melihat kepada
yang haram di jalan atau di telivisi. Kemudian bagi wanita, hendaknya menutupi
semua tubuhnya dengan hijab syar'i (kain penutup yang di-syari'atkan)
serta menjauhkan diri dari memperlihatkan aurat.
Dengan
banyaknya manusia, desak-desakan dan lelah, terkadang seseorang diuji dengan
berbantah-bantahan yang dilarang dalam haji. Misalnya dengan petugas lalu
lintas atau sopir mobil umum; ketika berdesak-desakan saat thawaf atau ketika
melempar jumrah. Waspadalah dari godaan dan tipu daya setan. Berusahalah untuk
selalu bersikap lembut, sabar dan berpaling dari orang-orang bodoh. Usahakan
untuk tidak keluar dari lisanmu kecuali ucapan-ucapan yang baik.
Ketiga:
Ketika haji, sebagian wanita tidak mengenakan jubah wanita dan ia berjalan di
antara laki-laki dengan pakaiannya. Terkadang pula ia memakai celana panjang.
Ia mengira bahwa hijab itu hanyalah sebatas meletakkan kerudung di atas
kepala. Ini adalah pemahaman yang keliru. Lebih parah lagi, sebagian wanita
pada hari Raya berhias dan berjalan di depan laki-laki dengan mengenakan
pakaian yang indah. Ia mengira bahwa itu adalah bagian dari kegembiraan hari
Raya. Ia tidak memahami bahwa perbuatannya itu termasuk kefasikan yang besar
dalam ibadah haji. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Aku tidak meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita." (Muttafaq Alaih).
Sebagian
wanita ada juga yang menganggap remeh masalah tidur di tempat-tempat umum yang
membuat laki-laki bisa melihat mereka. Adalah wajib bagi wanita muslimah untuk
bertaq-wa kepada Allah dan membatasi diri dari laki-laki asing (bukan mahram)
dengan mengenakan baju kurung lebar yang tidak ada perhiasannya, sehingga tak
kelihatan sesuatu pun dari (anggota badan)nya, baik wajah, tangan atau kakinya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Wanita adalah aurat. Jika ia keluar maka setan mengawasi/mengincarnya." (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih).
Pada
asalnya, istisyraf (mengincar) berarti meletakkan telapak tangan di atas alis
mata serta mendongakkan kepala untuk melihat. Maknanya sesuai konteks hadits di
atas- adalah jika wanita keluar rumah maka setan mengincarnya untuk menggodanya
atau menggoda (laki-laki) dengan dirinya.
Keempat:
Jika seorang muslim melakukan ihram haji atau umrah maka haram atasnya sebelas
perkara sampai ia keluar dari ihramnya (tahallul):
- Mencabut rambut.
- Menggunting kuku.
- Memakai wangi-wangian.
- Membunuh binatang buruan (darat, adapun bina-tang laut maka dibolehkan).
- Mengenakan pakaian berjahit (bagi laki-laki dan tidak mengapa bagi wanita). Pakaian berjahit adalah pakaian yang membentuk badan, seperti baju, kaos, celana pendek, gamis, celana panjang, kaos tangan dan kaos kaki. Adapun sesuatu yang ada jahitannya tetapi tidak membentuk badan maka hal itu tidak membahayakan muhrim (orang yang sedang ihram), seperti sabuk, jam tangan, sepatu yang ada jahitan-nya dsb.
- Menutupi kepala atau wajah dengan sesuatu yang menempel (bagi laki-laki), seperti peci, penutup kepala, surban, topi dan yang sejenisnya. Tetapi dibolehkan berteduh di bawah payung, di dalam kemah dan mobil. Juga dibolehkan membawa barang di atas kepala jika tidak dimaksudkan untuk menutupinya.
- Memakai tutup muka dan kaos tangan (bagi wanita). Tetapi jika di depan laki-laki asing (bukan mahram) maka ia wajib menutupi wajah dan kedua tangannya, namun dengan selain tutup muka (cadar), misalnya dengan menurunkan kerudung ke wajah dan memasukkan tangan ke dalam baju kurung.
- Melangsungkan pernikahan.
- Bersetubuh.
- Bercumbu (bermesraan) dengan syahwat.
- Mengeluarkan mani dengan onani atau bercumbu.
Orang
Yang Melakukan Hal-hal Yang Dilarang Memiliki Tiga Keadaan:
- Ia melakukannya tanpa udzur (alasan), maka ia berdosa dan wajib membayar fidyah (tebusan).
- Ia melakukannya untuk suatu keperluan, seperti memotong rambut karena sakit. Perbuatannya ter-sebut dibolehkan, tetapi ia wajib membayar fidyah.
- Ia melakukannya dalam keadaan tidur, lupa, tidak tahu atau dipaksa. Dalam keadaan seperti itu ia tidak berdosa dan tidak wajib membayar fidyah.
Jika
yang dilanggar itu berupa mencabut rambut, menggunting kuku, memakai
wangi-wangian, bercumbu karena syahwat, laki-laki mengenakan kain yang berjahit
atau menutupi kepalanya, atau wanita memakai tutup muka (cadar) atau kaos
tangan maka fidyah-nya antara tiga hal. Orang yang melakukan pelanggaran
itu boleh memilih salah satu daripadanya:
- Menyembelih kambing (untuk dibagikan kepada orang-orang fakir miskin dan ia tidak boleh memakan sesuatu pun daripadanya).
- Memberi makan enam orang miskin, masing-masing setengah sha' makanan. (setengah sha' lebih kurang sama dengan 1,25 kg.).
- Berpuasa selama tiga hari.
Dari
larangan-larangan di atas, dikecualikan hal-hal berikut ini:
- Melangsungkan pernikahan, sebab ia hukumnya haram, maka tidak ada fidyah karenanya.
- Membunuh binatang buruan (darat), sebab ia hukumnya haram, dan terdapat denda jika ia membunuhnya secara sengaja.
- Bersetubuh (dan ia adalah larangan yang paling besar). Jika ia melakukannya secara sengaja sebelum tahallul pertama, maka ada lima konsekuensi: Berdosa, Hajinya batal. Ia wajib menyempurnakan hajinya. Ia wajib mengulangi (men-qadha') hajinya pada tahun depan. Ia wajib membayar fidyah berupa seekor unta yang disembelih ketika melakukan haji qadha'.
Kelima:
Haji ada tiga jenis; tamattu', qiran dan ifrad. Yang
paling utama adalah haji tamattu', karena perintah Nabi J terhadapnya.
Haji tamattu' yaitu ia melakukan ihram dengan niat umrah saja pada bulan
haji, setelah selesai melakukannya ia lalu melakukan ihram dengan niat haji
pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah, pen.).
Haji ifrad yaitu ia
melakukan ihram dengan niat haji saja, ketika sampai di Makkah ia melakukan
thawaf qudum, kemudian langsung melakukan sa'i haji setelah thawaf qudum
.
Haji qiran yaitu ia melakukan ihram dengan niat
umrah dan haji sekaligus. Pekerjaan orang yang menunaikan haji qiran
sama dengan pekerjaan haji ifrad , kecuali dalam dua hal:
1.
Niat. Orang yang melakukan haji ifrad hanya meniatkan haji saja,
sedangkan orang yang menunaikan haji qiran meniatkan untuk umrah dan
haji (secara bersamaan).
2.
Hadyu
(menyembelih kurban). Orang yang menunaikan haji qiran wajib menyembelih
kurban, sedangkan orang yang menunaikan haji ifrad tidak wajib hadyu
(menyembelih kurban
KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN
Oleh : Muthmainnah
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu
'anhu:
Adalah Rasulullah SAW memberi
khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang
kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa
didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup
dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malm yang lebih baik
daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak
memperoleh apa-apa'." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)
2. Dari Ubadah bin AshShamit,
bahwa Rasulullah
bersabda:

"Telah datang kepadamu bulan
Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan
menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat
berlomba-lombanya kama pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para
malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu.
Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmatAllah di bulan
ini. " (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya
terpercaya). , Al-Mundziri berkata: "Diriwayatkan olehAn-Nasa'i dan Al-Baihaqi, keduanya ari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar
darinya."
3. Dari Abu Hurairah radhiallahu
'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda:
"Umatku pada bulan Ramadhan
diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau
mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para
malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa
Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),'Hampir
tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta
mereka menuju kepadamu, 'pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga
mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada
ummatku ampunan pada akhir malam. "Beliau ditanya, 'Wahai Rasulullah
apakah malam itu Lailatul Qadar' Jawab beliau, 'Tidak. Namun ovang yang beramal
tentu dibevi balasannya jika menyelesaikan amalnya.' " (HR. Ahmad)'"
Isnad hadits tersebut dha'if, dan di antara bagiannya ada nash-Nash lain yang memperkuatnya.
KEUTAMAAN PUASA
1.
Dalil :
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah uadhiallahu
'anhu, bahwa Nabi
bersabda: "Setiap amal yang dilakukan anak adam adalah untuknya,
dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali
lipat. Allah Ta'ala berfirman, 'Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang
langsung memba[asnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya
karena-Ku.' Orangyang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan
ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh,
bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi."

2.
Bagaimana ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah?
Perlu diketahui, bahwa ber-taqarrub
kepada Allah tidak dapat dicapai dengan meninggalkan syahwat ini -yang
selain dalam keadaan berpuasa adalah mubah- kecuali setelah ber-taqarrub
kepada-Nya dengan meninggalkan apa yang diharamkan Allah dalam segala hal,
seperti: dusta, kezhaliman dan pelanggaran terhadap orang lain dalam masalah
darah, harta dan kehormatannya. Untuk itu, Nabi
bersabda : "Barangsiapa tidak
meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan
puasanya dari makan dan minum." (HR. Al-Bukhari) .

Inti pernyataan ini, bahwa tidak
sempurna ber-taqawub kepada Allah Ta'ala dengan meninggalkan
hal-hal yang mubah kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan
meninggalkan hal-hal yang haram. Dengan demikian, orang yang melakukan hal-hal
yang haram kemudian ber-taqarrub kepada Allah dengan meninggalkan
hal-hal yang mubah, ibaratnya orang yang meninggalkan hal-hal yang wajib dan ber-taqarrub
dengan hal-hal yang sunat.
Jika seseorang dengan makan dan
minum berniat agar kuat badannya dalam shalat malam dan puasa maka ia mendapat
pahala karenanya. Juga jika dengan tidurnya pada malam dan siang hari berniat
agar kuat beramal (bekerja) maka tidurnya itu merupakan ibadah. Jadi orang yang
berpuasa senantiasa dalam keadaan ibadah pada siang dan malam
harinya.Dikabulkan do'anya ketika berpuasa dan berbuka. Pada siang harinya ia
adalah orang yang berpuasa dan sabar, sedang pada malam harinya ia
adalah orang yang memberi makan dan bersyukur.
3. Syarat
mendapat pahala puasa :
Di antara syaratnya, agar berbuka
puasa dengan yang halal. Jika berbuka puasa dengan yang haram maka ia termasuk
orang yang menahan diri dari yang dihalalkan Allah dan memakan apa yang
diharamkan Allah, dan tidak dikabulkan do'anya. Orang berpuasa yang berjihad :
Perlu diketahui bahwa orang mukmin
pada bulan Ramadhan melakukan dua jihad, yaitu :
- Jihad untuk dirinya pada siang hari dengan puasa.
- Jihad pada malam hari dengan shalat malam.
KHUSUSAN DAN KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN
1. Puasa Ramadhan adalah
rukun keempat dalam Islam. Firman Allah Ta'ala :
"Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertaqwa. "(Al-Baqarahl 183).
Sabda Nabi
.Islam didirikan di atas lima
sendi, yaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah
rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi
hajike Baitul Haram. " (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Ibadah puasa merupakan salah satu
sarana penting untuk mencapai takwa, dan salah satu sebab untuk mendapatkan
ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan kebaikan, dan pengangkatan derajat. Allah
telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari amal-amal ibadah
lainnya. Firman Allah dalam hadits yang disampaikan oleh Nabi
:
"Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi." (Hadits Muttafaq 'Alaih).

"Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi." (Hadits Muttafaq 'Alaih).
Dan sabda Nabi
:"Barangsiapa berpuasa
Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu. " (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Maka untuk memperoleh ampunan
dengan puasa Ramadhan, harus ada dua syarat berikut ini:
- Mengimani dengan benar akan kewajiban ini.
- Mengharap pahala karenanya di sisi Allah Ta 'ala.
2. Pada bulan Ramadhan diturunkan
Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan berisi keterangan-keterangan
tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil.
3. Pada bulan ini disunatkan shalat
tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk mengikuti jejak Nabi
, para sahabat dan Khulafaur
Rasyidin. Sabda Nabi
"Barangsiapa mendirikan
shalat malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Hadits Muttafaq 'Alaih).


4. Pada bulan ini terdapat Lailatul
Qadar (malam mulia), yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan,
atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Malam di mana pintu-pintu langit dibukakan,
do'a dikabulkan, dan segala takdir yang terjadi pada tahun itu ditentukan.
Sabda Nabi
:"Barangsiapa mendiuikan
shalatpada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, dari Allah niscaya
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Malam ini terdapat pada sepuluh
malam terakhir, dan diharapkan pada malam-malam ganjil lebih kuat daripada di
malam-malam lainnya. Karena itu, seyogianya seorang muslim yang senantiasa
mengharap rahmat Allah dan takut dari siksa-Nya, memanfaatkan kesempatan pada
malam-malam itu dengan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari kesepuluh
malam tersebut dengan shalat, membaca Al-Qur'anul Karim, dzikir, do'a, istighfar
dan taubat yang sebenar-benamya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita,
mengampuni, merahmati, dan mengabulkan do'a kita.
5. Pada bulan ini terjadi
peristiwa besar yaitu Perang Badar, yang pada keesokan harinya Allah membedakan
antara yang haq dan yang bathil, sehingga menanglah Islam dan kaum muslimin
serta hancurlah syirik dan kaum musyrikin.
6. Pada bulan suci ini terjadi
pembebasan kota Makkah Al-Mukarramah, dan Allah memenangkan Rasul-Nya, sehingga
masuklah manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong dan
Rasulullah menghancurkan syirik dan paganisme (keberhalaan) yang terdapat
di kota Makkah, dan Makkah pun menjadi negeri Islam.
7. Pada bulan ini pintu-pintu
Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan para setan diikat.
Betapa banyak berkah dan kebaikan
yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Maka kita wajib memanfaatkan kesempatan ini
untuk bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan beramal shalih, semoga
kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya dan beruntung.
Perlu diingat, bahwa ada sebagian
orang –semoga Allah menunjukinya- mungkin berpuasa tetapi tidak shalat,
atau hanya shalat pada bulan Ramadhan saja. Orang seperti
ini tidak berguna baginya puasa, haji, maupun zakat. Karena shalat adalah sendi
agama Islam yang ia tidak dapat tegak kecuali dengannya. Sabda Nabi
:
"Jibril datang kepadaku dan berkata, 'Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin!. Aku pun mengatakan: Amin. " (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya) "' Lihat kitab An Nasha i'hud Diniyyah, him. 37-39.

"Jibril datang kepadaku dan berkata, 'Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin!. Aku pun mengatakan: Amin. " (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya) "' Lihat kitab An Nasha i'hud Diniyyah, him. 37-39.
Maka seyogyanya
waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk berbagai amal kebaikan,
seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur'an, dzikir, do'a dan istighfar. Ramadhan
adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Ailah, untuk membersihkan hati
mereka dari kerusakan. Juga wajib menjaga anggota badan dari segala dosa,
seperti berkata yang haram, melihat yang haram, mendengar yang haram, minum dan
makan yang haram agar puasanya menjadi bersih dan diterima serta orang yang
berpuasa memperoleh ampunan dan pembebasan dari api Neraka.
Tentang keutamaan Ramadhan,
bersabda:
'"Aku melihat seorang laki-laki dari umatku terengah-engah kehausan, maka datanglah kepadanya puasa bulan Ramadhan lalu memberinya minum sampai kenyang " (HR. At-Tirmidzi, Ad-Dailami dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dan hadits ini hasan).

'"Aku melihat seorang laki-laki dari umatku terengah-engah kehausan, maka datanglah kepadanya puasa bulan Ramadhan lalu memberinya minum sampai kenyang " (HR. At-Tirmidzi, Ad-Dailami dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dan hadits ini hasan).
"Shalat lima waktu, shalat
Jum'at ke shalat Jum 'at lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya
menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya jika dosa-dosa besar
ditinggalkan. " (HR.Muslim).
Jadi hal-hal yang fardhu ini dapat
menghapuskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa-dosa besar ditinggalkan. Dosa-dosa
besar, yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman di dunia dan siksaan di
akhirat. Misalnya: zina, mencuri, minum arak, mencaci kedua orang tua,
memutuskan hubungan kekeluargaan, transaksi dengan riba, mengambil risywah (uang
suap), bersaksi palsu, memutuskan perkara dengan selain hukum Allah.
Seandainya tidak terdapat dalam
bulan Ramadhan keutamaan-keutamaan selain keberadaannya sebagai salah satu
fardhu dalam Islam, dan waktu diturunkannya Al-Qur'anul Karim, serta adanya Lailatul
Qadar -yang merupakan malam yang lebih balk daripada seribu bulan- di
dalamnya, niscaya itu sudah cukup, Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya.
Lihat kitab Kalimaat Mukhtaarah, hlm. 74 - 76.
TERIMAKASIH BANYAK
BalasHapus